19.5 C
East Kalimantan
Jumat, 17 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Makna di Balik Tari Perang “Laki Demanei” Dalam Tradisi Pakenoq Tawai

SANGATTA – Di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, ada satu acara adat yang terus dilestarikan setiap tahunnya yaitu tradisi Pakenoq Tawai.  Acara yang menjadi pelestarian budaya Dayak Kenyah Lepoq Bem ini tidak pernah dilewatkan masyarakat karena menampilkan satu pertunjukkan menarik yaitu “Tari Laki Demanei”.

Tari perang ini sarat makna. Bukan sekadar pertunjukan estetika dengan kepiawaian penari dan warna-warni kostumnya, melainkan sebuah drama yang mengisahkan tentang cinta sejati, kesetiaan, dan keberanian. Kisah heroik sepasang kekasih yang berjuang mempertahankan cintanya ini menjadi metafora sempurna untuk nilai-nilai luhur yang ingin ditanamkan kepada generasi penerus.

Acara yang kerap dihelat di Jalan Poros Sangatta-Bontang Kilometer 17, Desa Sangkima, Kecamatan Sangatta Selatan, itu identik dengan kemeriahan dan nuansa adat yang kental. Pelestariannya kini tetap relevan sebagai simbol pemersatu dan penjaga identitas budaya.

Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi memastikan komitmennya untuk menjaga warisan leluhur ini. “Tradisi ini adalah identitas kita. Budaya Dayak Kenyah harus terus dilestarikan, karena di dalamnya tersimpan nilai-nilai luhur tentang keberanian, cinta, dan kebersamaan,” kata dia saat membuka acara adat itu beberapa waktu lalu.

Pernyataan Mahyunadi ini bukan hanya retorika, melainkan seruan untuk bertindak. Menurut dia, semangat pelestarian budaya Dayak Kenyah Lepoq Bem harus terus bergema di Kutai Timur agar mengingatkan seluruh masyarakat pentingnya merawat warisan leluhur di era globalisasi.

Pakenoq Tawai lebih dari sekadar acara seremonial. Ia adalah napas yang menjaga warisan nenek moyang agar tidak punah ditelan zaman. Di tengah gempuran budaya modern, komitmen untuk terus menghidupkan tradisi seperti inilah yang akan memastikan bahwa kearifan lokal, nilai-nilai kebersamaan, dan cerita-cerita heroik seperti dalam Tari Laki Demanei tidak akan pernah pudar dari memori kolektif masyarakat Kutai Timur. Melestarikannya adalah tugas bersama untuk warisan bangsa di masa depan. (ADV/ProkopimKutim/KP)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru