19.5 C
East Kalimantan
Jumat, 17 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Kutim Siap Launching Program “Cap Jempol Stop Stunting”, Jadi Pelopor Inovasi Penanganan Stunting Berbasis Kolaborasi

Kutai Timur, Kaltimpop.com – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bersiap menjadi salah satu pelopor pelaksanaan program nasional “Cap Jempol Stop Stunting”, sebuah inovasi percepatan penurunan stunting yang menekankan kerja kolaboratif lintas sektor. Program ini akan resmi diluncurkan pada 27 Oktober 2025 dan dijadwalkan dihadiri oleh perwakilan Staf Kepresidenan Republik Indonesia.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim, Achmad Junaidi, menyampaikan bahwa kehadiran perwakilan dari Istana Negara menjadi bentuk dukungan moral sekaligus penguatan komitmen pemerintah pusat terhadap upaya penurunan stunting di daerah.

“Insya Allah, apalagi ini ada sinyal Staf Presiden akan hadir di acara launching. Tadi pagi sudah ada konfirmasi. Setelah acara HUT saya akan langsung terbang ke Jakarta,” ujarnya.

Program Cap Jempol Stop Stunting sendiri mengusung konsep “jemput bola” dengan memperkuat sinergi antar-organisasi perangkat daerah (OPD), dunia usaha, dan mitra pembangunan lainnya. Setiap pihak terlibat sesuai dengan tugas dan fungsinya, sehingga penanganan stunting tidak hanya dibebankan pada satu lembaga, tetapi menjadi gerakan bersama.

Junaidi menegaskan bahwa program ini tidak hanya menyasar penurunan angka keluarga berisiko stunting, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui berbagai kegiatan pendukung.

Salah satunya adalah Program Sekolah Lansia yang mulai diaktifkan tahun ini. Program tersebut bertujuan memberdayakan kelompok lanjut usia agar tetap produktif, mandiri, dan memiliki kesehatan mental yang baik.

“Sekolah Lansia itu sebetulnya bagaimana kita ingin memberdayakan para lansia supaya berdaya guna dan berhasil guna,” jelasnya.

Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia tidak hanya fokus pada usia produktif, tetapi mencakup semua kelompok umur demi mewujudkan masyarakat yang bahagia dan berdaya saing.

“Penduduk kita dikatakan berkualitas apabila tidak ada yang menganggur, stres, dan tetap merasa bahagia di usia mereka,” tambah Junaidi.

Dengan menggabungkan inovasi, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat, DPPKB Kutim optimistis program Cap Jempol Stop Stunting dan Sekolah Lansia dapat menjadi model nasional dalam upaya menciptakan masyarakat yang sehat, produktif, dan sejahtera.(Adv)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru