20.4 C
East Kalimantan
Kamis, 16 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Terlalu Memanjakan Pikiran, Mahasiswa STIENUS Kritisi Penggunaan AI

Sangatta – Ivan dan Revi, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Nusantara Sangatta, memiliki pandangan yang menarik terhadap penggunaan kecerdasan imitasi yang sering mereka gunakan. Salah satu dari mereka menganngap bahwa penggunaan AI terlalu memanjakan pikiran. Jumat (07/02/25).

Ivan, mahasiswa yang lebih memilih untuk berkomunikasi langsung dengan orang lain, menyampaikan bahwa meskipun AI seperti GPT dapat memberikan banyak manfaat, ada juga sisi negatif yang harus diperhatikan.

Memang itu bagus, tapi disisi lain itu sama saja memanjakan pikiran kita. Mungkin kalau untuk mencari jawaban, kami sebagai mahasiswa lebih suka bertanya langsung ke orang lain. Selain itu, ada nilai positif dalam silaturahmi, dan kami juga bisa mendapatkan pengalaman untuk percaya diri saat bertanya kepada orang lain,” ujar Ivan.

Mahasiswa Semester 8, Jurusan Manajemen STIE Nusantara Sangatta

Ivan juga menekankan bahwa meskipun AI sangat canggih, ia percaya bahwa manusia tetap lebih pintar karena mereka adalah pencipta dari teknologi tersebut. “AI hanya alat buatan manusia. Meskipun canggih, tetap manusia yang lebih pintar karena menciptakannya. Saya khawatir, jika kita terlalu bergantung pada teknologi ini, perkembangan pemikiran kita akan terhambat,” tambahnya.

Di sisi lain, Revi memiliki pandangan yang berbeda. Mahasiswa ini merasa bahwa penggunaan GPT memberikan banyak kemudahan, terutama dalam mendapatkan jawaban yang cepat dan akurat.

“Dengan menggunakan GPT, saya merasa sangat terbantu karena bisa mendapatkan jawaban lebih cepat saat bertanya. Selain itu, saya juga merasa lebih aman untuk bertanya tentang soal-soal atau bahkan curhat kepada GPT,” ungkap Revi dengan senyum.

Revi, Mahasiwi Semester 4 Jurusan Manajemen, STIE Nusantara Sangatta

Revi menambahkan bahwa kenyamanan dan manfaat yang dia rasakan dalam menggunakan AI sangat besar. “Informasi yang disediakan sangat membantu dan menguntungkan. Saya juga menyukai cara GPT berkomunikasi, bahasa yang digunakan terasa alami dan seperti percakapan manusia,” lanjutnya.

Pendapat yang diungkapkan oleh Ivan dan Revi menggambarkan bahwa meskipun teknologi AI, khususnya GPT, semakin berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, pandangan terhadap penggunaannya tetap beragam. Sementara Ivan lebih berhati-hati dalam menghadapinya karena khawatir akan dampak ketergantungan, Revi justru merasakan banyak manfaat positif dari kemudahan yang ditawarkan AI.

Perdebatan ini menggugah kesadaran akan pentingnya keseimbangan dalam memanfaatkan teknologi, agar tidak hanya mengandalkan AI, tetapi tetap mengutamakan interaksi manusia dan pengembangan pemikiran secara mandiri. Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, bagaimana mahasiswa dan masyarakat umum akan menghadapinya tentu menjadi pertanyaan yang menarik untuk dijawab di masa depan.

Penulis: Yohana Odilia nanda

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru