18.7 C
East Kalimantan
Minggu, 19 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

SPPG APT Pranoto Ingatkan Ketahanan Makanan MBG Maksimal 6 Jam

SANGATTA – Kepala Satuan Pemenuhan Pangan Bergizi (SPPG) APT Pranoto Dinand Perdanan menegaskan pentingnya disiplin dalam pengelolaan makanan. Ia mengingatkan agar makanan bergizi gratis (MBG) tidak dibawa pulang oleh siswa.

“Hal ini penting untuk menghindari kontaminasi dan penurunan kualitas makanan karena durasi ketahanan makanan maksimal hanya enam jam setelah proses masak. Jadi, paling lambat sebelum pukul 15.00 WITA makanan harus sudah dikonsumsi di sekolah,” ujarnya.

SPPG APT Pranoto menjadi percontohan (pilot project) pelayanan program MBG di Kutai Timur. SPPG ini melayani empat sekolah dengan jumlah siswa sebanyak 1.812 orang termasuk TK Starkid dan SD Star Generation.

Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi yang meresmikan SPPG tersebut memastikan pemerintah daerah berkomitmen penuh terhadap aspek higienitas dan kualitas nutrisi dalam setiap menu yang disajikan. “Setelah melakukan room tour di SPPG APT Pranoto kami melihat bahwa mereka telah menerapkan prosedur yang ketat dan transparan dari hulu ke hilir sampai ke siswa,” kata dia.

Menurut dia, program MBG dirancang bukan hanya untuk mengenyangkan perut tetapi juga menumbuhkan kualitas generasi muda dengan gizi seimbang. Program makan bergizi ini tidak hanya soal menyediakan makanan tetapi juga soal menanamkan masa depan. Dengan tambahan gizi lengkap, berupa karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral.

“Kita ingin anak-anak Kutim tumbuh sehat, kuat, dan cerdas. Inilah fondasi penting untuk melahirkan generasi emas yang siap bersaing di masa depan. Program MBG ini harus dibarengi dengan evaluasi secara berkala untuk mencegah hal-hal yang merugikan kesehatan siswa,” tegasnya.

Dari sisi teknis, pelaksanaan program ini melibatkan Yayasan Perisai Amanah Mandiri, mitra resmi Badan Gizi Nasional (BGN). Ketua yayasan, Niko, mengatakan seluruh rantai produksi makanan mulai dari pemilihan bahan baku hingga distribusi mengikuti standar keamanan pangan dan SOP higienis.

“Proses pengolahan dilakukan tenaga terlatih sesuai pedoman sanitasi termasuk pengecekan suhu masak dan kebersihan alat,” ujar Niko.(ADV/ProkopimKutim/KP)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru