SANGATTA – Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Kutai Timur Ismail Fahmi Almadi menyampaikan harapan agar mahasiswa yang akan melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mampu menjadi agen perubahan. Tidak hanya menjalankan kewajiban akademik melainkan membangun relasi emosional dan menyumbangkan gagasan serta aksi nyata bagi masyarakat.
“Kehadiran di desa bukan hanya sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi juga membangun hubungan emosional serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat setempat,” kata Ismail.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Pemkesra Seskab) Kutai Timur Poniso Suryo Renggono mewakili Bupati memberikan motivasi kepada 58 mahasiswa dengan menekankan pentingnya karakter dan integritas dalam menjalankan pengabdian.
“Berpikirlah positif, bertindaklah positif, maka hasilnya pun akan positif. Apa yang kita tampilkan dari perilaku dan perkataan akan mencerminkan kualitas diri serta kesiapan untuk memimpin di masa depan,” ujar Poniso di hadapan mahasiswa dan dosen STIPER.
Menurut dia, pemerintah Kutai Timur mendukung penuh KKN mahasiswa STIPER ini. Pemerintah berharap kehadiran mahasiswa bukan hanya membawa semangat akademik tetapi juga solusi konkret atas berbagai tantangan lokal di lokasi KKN.
“Atas nama Pemkab Kutim, kami mengucapkan selamat mengabdi kepada seluruh mahasiswa STIPER. Semoga setiap langkah, ilmu, dan tenaga yang kalian curahkan menjadi bagian dari pembangunan daerah,” Poniso menambahkan.
Sebelum diberangkatkan, para peserta telah mengikuti pembekalan selama tiga hari di kampus STIPER yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta, Sangatta. Mereka dilatih menghadapi realitas sosial, menyusun program kerja, memahami pendekatan partisipatif, dan menjaga etika dalam berinteraksi di komunitas desa.
Sebanyak 58 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Kutai Timur (Kutim) resmi dilepas untuk melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 45 hari. Mereka akan mengabdi di lokasi KKN yang berada di dua Kecamatan yaitu Karangan dan Kaliorang, Kutai Timur. Kedua wilayah ini menyimpan potensi sekaligus tantangan dalam sektor pertanian, lingkungan hidup, dan penguatan desa. (ADV/ProkopimKutim/KP)


