kaltimpop.com – Memasuki bulan pertama 2025, diskusi mengenai kondisi ekonomi Indonesia semakin mengemuka. Berbagai data capaian tahun lalu menjadi rujukan utama bagi pelaku bisnis dan ekonom dalam meramalkan arah ekonomi tahun ini.
Sejumlah ekonom memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 akan stagnan di angka 5%, tidak berubah dari proyeksi tahun 2024. Bahkan, menurut Institute for Development of Economics and Finance (Indef), mencapai angka 5% saja sudah dianggap baik. Prediksi ini masih jauh dari target ambisius Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8% dalam masa pemerintahannya.
Menteri Keuangan Sri Mulyani, dalam pernyataannya pekan lalu, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2024 hanya mencapai 5%, lebih rendah dari target awal 5,2%. Pada kuartal pertama 2024, ekonomi tumbuh 5,11% (yoy), kuartal kedua 5,05% (yoy), dan kuartal ketiga 4,95%. Sementara untuk kuartal keempat masih dalam perhitungan, namun diproyeksikan sekitar 5%.
Prediksi serupa juga datang dari Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2025 berada di kisaran 4,8-5%. Beberapa faktor yang menghambat pertumbuhan tersebut termasuk ketidakstabilan ekonomi global, terutama setelah Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.
Menurut ekonom Core Indonesia, Ahmad Akbar Susamto, perlambatan ekonomi juga disebabkan oleh penurunan harga komoditas yang berdampak pada penerimaan pajak. Outlook APBN 2024 menunjukkan bahwa meskipun pajak tumbuh positif, penerimaan dari Pajak Penghasilan (PPh) Badan mengalami kontraksi akibat menurunnya profitabilitas sektor usaha. Akbar juga memperkirakan defisit pajak atau shortfall masih akan terjadi pada 2025, terutama pada kuartal pertama.
Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal, menambahkan bahwa konsumsi rumah tangga yang menyumbang sekitar 55% dari Produk Domestik Bruto (PDB) masih melemah. Pelemahan ini terutama terjadi di kelas menengah dan calon kelas menengah, yang merupakan pendorong utama konsumsi domestik. Faisal menilai belum adanya kebijakan yang jelas untuk memperbaiki daya beli kelompok ini membuat perlambatan ekonomi masih akan berlanjut sepanjang tahun ini.
Survei Bloomberg terhadap 30 ekonom yang dirilis kemarin juga menunjukkan proyeksi yang serupa. Ekonomi Indonesia pada 2025 diperkirakan tumbuh stagnan di angka 5% dan baru mulai bangkit pada 2026 dengan prediksi pertumbuhan sebesar 5,10%. Survei ini juga mencatat potensi resesi dalam 12 bulan ke depan mencapai 5%, berbeda dari survei bulan lalu yang tidak mencatat adanya potensi resesi dalam periode tersebut.
Selain itu, defisit fiskal Indonesia pada 2024 diperkirakan mencapai -2,6% dari PDB, dan akan meningkat menjadi -2,7% pada 2025 serta -2,8% pada 2026. Sementara itu, defisit transaksi berjalan tahun ini diperkirakan meningkat menjadi -1,2% dari PDB, dibandingkan -0,8% pada 2024. Tingkat pengangguran juga diperkirakan mengalami peningkatan dari 4,9% pada 2024 menjadi 5% pada 2025.
Dengan tantangan yang masih menghadang, para ekonom menilai bahwa pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap stabil dan berkelanjutan di tengah dinamika global yang semakin kompleks. (***)


