
Kutai Timur, Kaltimpop.com — Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mendorong percepatan dua program strategis daerah yang menyasar peningkatan kualitas hidup masyarakat. Program tersebut ialah pemberdayaan lansia melalui Sekolah Lansia serta upaya penurunan angka keluarga berisiko stunting yang masih menjadi tantangan besar di Kutim. Hal ini disampaikan Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, usai menghadiri Rapat Paripurna HUT ke-26 Kutim, Kamis (9/10/2025).
Junaidi menuturkan bahwa Sekolah Lansia menjadi salah satu terobosan penting dalam menjaga kualitas hidup masyarakat usia 40 tahun ke atas. Program ini dirancang agar para lansia tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga aktif, produktif, dan memiliki rasa bahagia dalam menjalani usia mereka.
“Penduduk yang berkualitas itu tidak boleh menganggur atau stres. Sekolah Lansia dirancang agar para lansia tetap aktif, bangga, dan bahagia di usia mereka,” ujarnya.
Program yang dijalankan selama satu tahun tersebut meliputi kegiatan olahraga seperti senam, pengembangan bakat seni, hingga pelatihan berbagai keterampilan praktis. Pada akhir periode, peserta akan menjalani prosesi wisuda sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka. Pelaksanaan program ini juga melibatkan kolaborasi erat dengan Dinas Pendidikan melalui lembaga non-formal seperti PKBM dan lembaga kursus. Para guru dan pamong berperan sebagai instruktur, sementara fasilitas laboratorium dimanfaatkan sebagai sarana praktik pembelajaran.
Di sisi lain, penanganan keluarga berisiko stunting juga menjadi fokus utama DPPKB Kutim. Saat ini, Kutim mencatat sekitar 19.000 keluarga berisiko, dan pemerintah menargetkan angka tersebut turun menjadi 11.000 keluarga sesuai amanat Peraturan Bupati. Prevalensi stunting sendiri berada di angka 26 persen, dengan target penurunan hingga 24 persen atau lebih rendah. Dua kecamatan yang memiliki angka tertinggi ialah Sangatta Utara dan Bengalon.
Upaya percepatan dilakukan dengan menganalisis faktor risiko berdasarkan konsep “4T”: Terlalu Dekat (jarak kehamilan), Terlalu Muda, Terlalu Banyak, dan Terlalu Tua. Selain itu, DPPKB Kutim mendorong masyarakat beralih dari metode KB tradisional menuju KB modern melalui edukasi intensif yang diberikan Tim Pendamping Keluarga (TPK).
Junaidi menegaskan bahwa keberhasilan penurunan stunting tidak bisa dicapai tanpa kolaborasi lintas sektor. Program 1.000 Rumah Layak Huni (RLH) dengan sanitasi memadai, serta dukungan PDAM dalam menyediakan air bersih gratis bagi keluarga kurang mampu, menjadi bagian penting dari penanganan faktor lingkungan yang menyebabkan stunting.
Ia berharap sinergi seluruh perangkat daerah dapat mempercepat penurunan risiko stunting sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lanjut usia.(Adv)


