Kutai Timur – Inovasi pemanfaatan limbah ternak sapi menjadi biogas berhasil dikembangkan oleh Kelompok Tani Rimba Raya di Desa Bukit Permata, Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur. Melalui pengelolaan kotoran sapi menjadi sumber energi alternatif, kelompok peternak tidak hanya mampu mengurangi limbah, tetapi juga memenuhi kebutuhan gas untuk memasak di rumah tangga.
Keberhasilan tersebut mendapat perhatian pemerintah desa yang berencana mengembangkan program serupa di setiap RT agar masyarakat tidak lagi bergantung pada gas LPG. Peninjauan terhadap pengelolaan peternakan dan instalasi biogas dilakukan pada Rabu (29/7/2026).
Ketua Kelompok Tani Rimba Raya, Kaeri, menjelaskan bahwa keberhasilan tersebut bermula dari pendampingan yang dilakukan oleh konsultan PSK bersama PT Indeksim sejak 2023.
“Awalnya kami tidak percaya kalau kotoran sapi bisa menghasilkan gas untuk memasak, apalagi menjadi sumber penghasilan. Setelah dibina selama tiga tahun oleh PT Indeksim, kami mengikuti semua proses yang diajarkan hingga akhirnya berhasil seperti sekarang,” ujarnya.
Menurut Kaeri, sebelum mendapat pendampingan, ternak sapi milik warga masih dipelihara secara lepas. Setelah diarahkan untuk menerapkan sistem peternakan intensif, pengelolaan menjadi lebih teratur dan memberikan nilai ekonomi yang lebih besar.
Saat ini kelompok tersebut mempekerjakan enam orang tenaga kandang dengan biaya operasional mencapai sekitar Rp15 juta per bulan. Selain mengembangkan usaha peternakan, mereka juga memproduksi pupuk kompos yang dipasarkan melalui kerja sama dengan PT Indeksim sebanyak 15 ton setiap bulan.

Di sektor peternakan, Kelompok Tani Rimba Raya kini mengelola sekitar 100 ekor sapi, terdiri dari sapi penggemukan dan sapi pembibitan (breeding). Sebagian sapi penggemukan telah terjual pada momentum Iduladha, termasuk kepada perusahaan PT GAM.
Untuk memenuhi kebutuhan pakan, kelompok tani memanfaatkan rumput yang ditanam melalui bantuan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur serta rumput liar di sekitar perkebunan sawit. Meski demikian, Kaeri mengakui ketersediaan tenaga kerja masih menjadi tantangan utama dalam pengelolaan peternakan.
Selain pupuk kompos, inovasi lain yang dikembangkan adalah pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas. Instalasi biogas yang saat ini dimiliki masih bersifat percontohan, namun telah mampu memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari.
“Dengan kapasitas digester sekitar tujuh ton, gas yang dihasilkan setara kurang lebih tiga kilogram LPG per hari. Untuk kebutuhan memasak sehari-hari masih sangat mencukupi,” jelasnya.
Ia berharap ke depan teknologi tersebut dapat diterapkan lebih luas sehingga masyarakat memiliki alternatif energi ketika pasokan LPG mengalami kelangkaan.
Sementara itu, Kepala Desa Bukit Permata, Sutrisno, mengatakan pemerintah desa telah menyusun rencana jangka panjang untuk membentuk kelompok tani ternak sapi di setiap RT.
Menurutnya, inspirasi tersebut muncul setelah melihat keberhasilan Kelompok Tani Rimba Raya dalam mengelola peternakan sekaligus memanfaatkan limbah menjadi biogas.
“Kami ingin setiap RT memiliki kelompok tani ternak sapi. Nantinya kotoran sapi tidak terbuang begitu saja, tetapi dimanfaatkan menjadi biogas sehingga masyarakat tidak lagi bergantung pada LPG,” kata Sutrisno.
Ia menjelaskan, pengembangan peternakan akan dilakukan secara intensif, bukan lagi dengan sistem penggembalaan bebas. Selain menghasilkan sapi untuk penggemukan dan pembibitan, seluruh limbah ternak, termasuk kotoran dan urine, akan dimanfaatkan sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Untuk pemasaran, pemerintah desa telah menyiapkan skema yang membedakan sapi penggemukan dan pembibitan. Sapi penggemukan akan dijual menjelang Iduladha, sedangkan hasil pembibitan akan terus dikembangkan sebagai sumber pendapatan kelompok tani.
Sutrisno menambahkan, pemerintah desa juga telah menyusun perencanaan beserta kebutuhan anggaran (RAB) untuk merealisasikan program tersebut secara bertahap. Ia berharap pengembangan peternakan dan biogas di setiap RT dapat menjadi solusi dalam meningkatkan ketahanan energi sekaligus kesejahteraan masyarakat Desa Bukit Permata.


