Kukar – Meski dikenal sebagai desa dengan aktivitas pertambangan yang padat, Embalut di Kecamatan Tenggarong Seberang justru menyimpan kekuatan ekonomi lain yang tak kalah menjanjikan yakni sektor perikanan air tawar.
Setiap malam, tak kurang dari dua ton ikan segar keluar dari kolam-kolam warga, menjadikan desa ini salah satu sentra penghasil ikan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
“Warga kami sudah biasa kirim ikan ke pasar-pasar di sekitar sini. Produksi kami stabil, bahkan saat desa-desa lain terkena serangan penyakit ikan, di sini aman,” kata Kepala Desa Embalut, Yahya belum lama ini.
Budidaya perikanan telah lama menjadi tumpuan ekonomi masyarakat Embalut, bahkan sebelum wacana penutupan tambang yang dijadwalkan terjadi pada 2027.
Keuntungan yang diperoleh pun tidak main-main. Rata-rata pembudidaya mampu meraup penghasilan antara Rp15 juta hingga Rp20 juta per bulan, bergantung pada jumlah keramba dan kondisi pasar.
“Kalau serius dan punya banyak keramba, satu orang bisa untung bersih sampai Rp30 juta per bulan. Saya sendiri dulu ingin punya 60 kotak keramba, karena saya yakin potensi ini besar,” sambungnya.
Namun, geliat usaha ini tidak terlepas dari ancaman penyakit ikan, seperti Bangar dan KHP, yang sempat menghantam sejumlah daerah pembudidaya di Kukar. Berbeda dengan wilayah lain, Embalut memiliki teknik penanggulangan sendiri hasil dari riset jangka panjang dan biaya besar.
“Penyakit ikan itu musuh utama. Di Loa Kulu, misalnya, banyak petani ikan kolaps karena itu. Tapi di sini kami punya cara sendiri,” ungkapnya.
Yahya menyebut teknik ini sebagai “ilmu mahal” yang tidak diperoleh dari ruang kuliah, melainkan melalui pengalaman lapangan yang tidak mudah diduplikasi.
“Profesor dan doktor perikanan dari kampus ternama pun tidak tahu caranya. Ini hasil penelitian dengan modal puluhan juta, bukan sekadar teori,” sebutnya.
Menariknya, geliat sektor ini berjalan secara mandiri tanpa bergantung pada lahan pasca-tambang. Kolam-kolam warga sepenuhnya memanfaatkan sumber air alami yang telah dimanfaatkan sejak dulu.
“Perikanan di sini berkembang bukan karena tambang tutup atau karena dampak lahan bekas tambang. Memang sejak dulu kami melihat potensi besar dari air dan sumber daya yang kami punya,” ujar Yahya.
Bahkan saat tambang mulai melemah, sektor perikanan tetap menunjukkan ketahanan ekonomi yang solid. Banyak warga lebih memilih bertahan sebagai pembudidaya karena penghasilan yang stabil.
“Saya dari awal sudah bilang ke warga, jangan cuma mengandalkan tambang. Belajar usaha sendiri, salah satunya lewat perikanan ini. Dan terbukti sekarang hasilnya luar biasa,” terangnya.
Di balik keberhasilan ini, peran Yahya tak bisa dipisahkan. Ia secara aktif memperjuangkan penyuluhan, bantuan sarana produksi, hingga mendampingi langsung proses budidaya.
Ke depan, ia menargetkan pengembangan hilirisasi agar ikan tak hanya dijual dalam bentuk mentah, tapi juga produk olahan bernilai tambah.
“Kami punya potensi besar di sini. Kalau kita kelola dengan ilmu dan kompak, perikanan ini bisa menopang ekonomi desa jauh ke depan,” pungkasnya. (adv)


