Sangata – Ajang Ramadhan Street Boxing 2 kembali digelar di Coffee Time Sangatta pada Jumat (21/3/2025). Kegiatan yang diinisiasi oleh AOKI Kutai Timur ini hadir sebagai alternatif positif bagi anak muda yang kerap terlibat tawuran dan balap liar, dengan memberikan wadah resmi untuk menyalurkan energi mereka melalui olahraga tinju.
Ketua penyelenggara Brandon Anto menjelaskan bahwa ide acara ini muncul sebagai respons terhadap maraknya perilaku negatif di kalangan remaja Kutai Timur.
“Tahun lalu kita melihat banyak kejadian tawuran, balap motor, dan kegiatan negatif lainnya. Daripada mereka berkelahi di jalan, lebih baik kita kasih tempat resmi. Di sini mereka bisa adu pukul dengan aturan yang jelas, didampingi pelatih, dan menggunakan perlengkapan pelindung,” ujar Brandon.
Acara ini tidak hanya menjadi ajang adu fisik, tetapi juga bertujuan membangun mental disiplin, sportivitas, dan jiwa kompetitif di kalangan pemuda. AOKI Kutai Timur bahkan berencana menghadirkan artis atau kreator konten olahraga kombat dalam event mendatang untuk semakin menarik minat anak muda dalam dunia tinju.
“Akhir tahun nanti, kita coba datangkan artis atau kreator konten dari dunia olahraga kombat untuk bertanding di Boxing AOKI Kutai Timur,” tambah Brandon.
Salah satu peserta, Farhan Sajiddan Karim, yang bertanding di kelas 73 KG, mengaku senang bisa berpartisipasi dalam ajang ini.
“Seru banget! Ini pertandingan pertama saya di tahun 2025. Walaupun ada luka sedikit di mulut, tapi enggak masalah. Namanya juga tinju! Yang penting bisa menang hari ini,” ujar Farhan.
Ketua AOKI Kutai Timur, Abah Ordiansyah, menegaskan bahwa event ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari upaya membangun komunitas olahraga bertarung yang positif di Kutai Timur.
“AOKI hadir sebagai wadah bagi anak muda yang ingin menyalurkan minatnya di olahraga fighting. Ini panggung bagi mereka yang ingin menunjukkan bakatnya, bukan untuk ribut di jalanan,” jelas Abah Ordiansyah.
Dengan adanya Ramadhan Street Boxing 2, AOKI Kutai Timur berharap dapat mengurangi perilaku negatif di kalangan remaja dan membangun kultur olahraga yang lebih sehat, kompetitif, serta berprestasi. (*)


