SANGATTA – Peletakan batu pertama Gereja Toraja Jemaat Prima Sangatta (GT JPS) Kutai Timur berjalan dengan lancar dan suasana penuh sukacita. Ratusan jemaat yang hadir mengucapkan rasa syukur atas berdirinya rumah ibadah baru tersebut.
Bupati Kutai Timur H. Ardiansyah Sulaiman menekankan keberadaan rumah ibadah ini adalah refleksi kuat tentang jalinan sosial yang telah lama menjadi nadi Kutim. Keberagaman bukan semata realitas demografis, tetapi modal sosial yang menopang pembangunan.
“Kutim ini kaya dengan heterogenitas, ada banyak suku, agama, dan budaya yang hidup berdampingan secara harmonis. Inilah modal besar kita dalam membangun daerah,” ujarnya dalam sambutan di acara tersebut.
Ardiansyah menegaskan pentingnya mengelola beragam potensi daerah secara arif. Dia juga bersyukur, Kutim dikaruniai multi modal yaitu kekayaan alam yang melimpah, sumber daya manusia yang unggul serta semangat gotong royong masyarakat.
“Semua ini menjadi berkah yang harus kita kelola dengan bijak demi kemajuan bersama,” ujarnya.
Di sisi lain, haru mewarnai suara Ketua Panitia Pembangunan GT JPS, dr. Tity Novel Paembonan, ketika menyampaikan ungkapan terima kasih. Ia menyebut peletakan batu pertama ini sebagai tonggak baru perjalanan jemaat.
“Hari ini kita bersyukur kepada Tuhan. Ini adalah hari yang bersejarah, sebuah momen kebersamaan dalam peletakan batu pertama pembangunan GT JPS. Semua ini bisa terjadi berkat partisipasi jemaat, dukungan pemerintah, dan seluruh pihak yang bergandeng tangan,” tuturnya.
Deretan tokoh daerah hadir menyaksikan tonggak bersejarah tersebut. Ketua DPRD Kutim, Jimmi, Wakil Ketua DPRD Kutim Sayid Anjas, para pendeta Gereja Toraja, dan pengurus Klasis Kutim.
Pemerintah daerah mengalokasikan lebih dari Rp 8 miliar untuk tahap awal Pembangunan terutama untuk pekerjaan struktur fondasi dan kolom. Secara keseluruhan, gereja ini diperkirakan menghabiskan anggaran sekitar Rp 42-43 miliar, dengan target rampung dalam tiga hingga empat tahun ke depan. (ADV/ProkopimKutim/KP)


