SANGATTA – Pemerintah Kutai Timur sedang mengembangkan Mini Feedmill, sebuah pabrik mini pakan ternak skala lokal yang diharapkan mampu menekan biaya produksi yang selama ini didominasi oleh pengeluaran pakan, mencapai 70 hingga 80 persen.
“Kalau pakan bisa diproduksi sendiri, biaya operasional bisa ditekan, dan peternak bisa lebih mandiri. Kami juga akan memediasi kerja sama antara APAPS dengan program ketahanan pangan milik Polres Kutim, yang menanam jagung. Dengan begitu, pasokan bahan baku pakan bisa tersedia dan terjangkau,” kata Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Dyah Ratnaningrum.
Program ini merupakan kolaborasi antara warga yang tergabung dalam Asosiasi Peternak Ayam Petelur Sangatta (APAPS), pemerintah daerah melalui Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP), serta PT Kaltim Prima Coal (KPC) melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Selain itu, kata dia, pemerintah juga mendorong budidayakan ayam pullet, ayam betina muda yang siap menjadi petelur. Langkah ini bukan sekadar usaha beternak, tapi ikhtiar membangun pondasi ketahanan pangan dari akar rumput yang diharapkan bisa memantik swasembada telur lewat budidaya ayam pullet.
“Kebutuhan telur se-Kutim bisa mencapai 80 ribu butir per bulan, tapi baru 30 persen yang bisa dipenuhi peternak lokal. Sisanya masih diimpor dari luar Sangatta,” jelas Dyah. “Dengan program ini, kita punya harapan mengurangi ketergantungan itu secara bertahap,” tambahnya.
Lebih jauh, jika model budidaya pullet ini berhasil, ia akan direplikasi ke kecamatan lain. Skema ini dinilai mampu memberdayakan masyarakat desa lewat pendekatan ekonomi berbasis pangan yang berakar kuat pada kearifan lokal.
Program budidaya ini juga membekali para peserta dengan pelatihan menyeluruh, dari teknik pemeliharaan ayam hingga manajemen usaha kecil. Setiap rumah tangga diberi peluang untuk memulai usaha mandiri dengan modal dasar berupa bibit ayam dan pakan awal. Pendekatan ini bukan hanya memberdayakan individu, tapi memperkuat jaringan sosial antarwarga lewat semangat gotong royong.(ADV/ProkopimKutim/KP)


