SANGATTA – Bendahara Umum Partai Demokrat, Irwan Fecho, mendorong Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) untuk segera memprioritaskan tiga agenda strategis pembangunan daerah. Ketiga agenda itu meliputi optimalisasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy, percepatan pembangunan Pelabuhan Kenyamukan, serta kelanjutan pembangunan Bandar Udara Sangkima.
Hal tersebut disampaikan Irwan saat berbincang dengan awak media di Kedai Kopi Meet Point, Jalan APT Pranoto, Sangatta Utara, tadi malam. Irwan, yang juga merupakan putra daerah Kutai Timur, menilai KEK Maloy sebagai salah satu proyek strategis yang harus segera bangkit dan diaktifkan kembali.
Menurutnya, selama lebih dari satu dekade, kawasan tersebut tidak menunjukkan geliat investasi yang berkelanjutan, sehingga perlu perhatian khusus oleh Pemerintah Daerah.
“KEK Maloy ini kan sudah kurang lebih 10 tahun tidak fungsional kan, aryinya investi tidak datang datang juga,” ujarnya.
Irwan mengungkapkan bahwa saat ini ada peluang untuk mengaktifkan KEK Maloy melalui program transmigrasi lokal, sebuah inisiatif baru dari Kementerian Transmigrasi RI. Program ini, kata Irwan, berbeda dari pola transmigrasi sebelumnya karena menekankan pada pemukiman modern dan terintegrasi dengan infrastruktur dasar serta pemberdayaan ekonomi lokal.
“Jadi bukan transmigrasi yang seperti di Rantau Pulung atau Kaubun, tapi perumahan yang tertata baik, modern, dengan infrastruktur pendidikan, jalan, kesehatan, jadi bukan hanya memindahkan masyarakat tapi ada pengembangan kewilayahan, bahkan tidak mengubah kearifan lokal,” terangnya.
Lebih lanjut, Irwan menyebut program transmigrasi lokal ini tidak hanya akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal tetapi juga mendorong KEK Maloy menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kalimantan Timur.
“Kalau KEK Maloy sudah aktif, maka akan jadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Kalau sudah begitu, ya seperti bunga yang didatangi kumbang,” kata mantan anggota Komisi V DPR RI ini.
Irwan menambahkan bahwa ia telah bertemu Bupati Kutim untuk membahas rencana audiensi dengan Kementerian Transmigrasi. Langkah ini akan dilanjutkan ke level Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Kewilayahan, hingga penandatanganan MoU dan PKS (Perjanjian Kerja Sama).
Selain KEK Maloy, Irwan juga menyoroti pentingnya percepatan pembangunan Pelabuhan Kenyamukan yang menurutnya bisa segera difungsikan melalui intervensi APBD.
“Saya sudah diskusi agar pembangunan pelabuhan dilanjutkan. Waktu saya di Komisi V, kita sudah bantu Rp100 miliar dari APBN. Kalau sekarang ditopang APBD, saya yakin paling lambat awal 2026 sudah bisa fungsional,” jelasnya.
Di sisi lain, Irwan juga meminta agar pembangunan Bandar Udara Sangkima tidak dibiarkan mangkrak. Ia menyatakan siap memfasilitasi pertemuan Pemerintah Kutim dengan Kementerian Perhubungan dan Kementerian Kehutanan untuk mempercepat realisasi proyek tersebut.
“Makanya saya bilang ini semua simultan. Saat KEK Maloy diaktifkan, pelabuhan harus fungsional, bandara juga harus dilanjutkan. Tiga-tiganya harus jalan bersama untuk masa depan Kutim,” pungkasnya.


