28.8 C
East Kalimantan
Rabu, 4 November 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Erau Jejak Tanah 2026 Kenalkan Tradisi Kutai

Erau Jejak Tanah perdana di Kutai Timur diarahkan menjadi ruang pelestarian sekaligus pengenalan budaya kepada generasi muda.

SANGATTA – Tradisi Kutai akan mendapatkan ruang baru di Kabupaten Kutai Timur melalui penyelenggaraan Erau Jejak Tanah 2026. Untuk pertama kalinya, rangkaian prosesi adat tersebut dijadwalkan berlangsung pada 10-13 Oktober 2026 dengan melibatkan pemerintah daerah dan para pemangku adat.

Pusat pelaksanaan Erau Jejak Tanah 2026 berada di Rumah Adat Pore, salah satu rumah adat Kutai di kawasan Ring Road, Kutai Timur. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur menjadi salah satu perangkat daerah yang terlibat dalam kepanitiaan, terutama untuk memastikan rangkaian acara adat dan sakral dapat dilaksanakan sesuai ketentuan tradisi.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutai Timur, Ilham, mengatakan instansinya menempati posisi Wakil Ketua II dalam struktur kepanitiaan. Tanggung jawab yang berada dalam lingkup tersebut mencakup acara adat dan sakral, akomodasi dan konsumsi, perlengkapan, keamanan, hingga koordinasi pelayanan dan kesehatan.

“Khusus Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim itu memiliki tanggung jawab pada pelaksanaan rangkaian acara adat dan sakral dalam Erau Jejak Tanah 2026,” ungkap Ilham saat ditemui di ruang kerjanya di Sangatta.

Keterlibatan Bidang Kebudayaan menjadi bagian penting karena Erau tidak hanya menghadirkan kegiatan seremonial. Sejumlah prosesi adat yang memiliki tata cara tersendiri akan dilaksanakan selama rangkaian kegiatan.

Beberapa prosesi yang dipersiapkan antara lain Mendirikan Tiang Ayu, Beluluh, Mempelass, Titi Bende, dan Hau Jama. Disdikbud Kutai Timur menyatakan siap menjalankan tanggung jawab tersebut berdasarkan arahan ketua panitia serta melibatkan pihak-pihak yang memahami tata cara adat.

Keberadaan pemangku adat Kutai menjadi unsur penting dalam penyelenggaraan kegiatan. Pelibatan mereka diperlukan agar prosesi yang ditampilkan tetap berpijak pada tradisi dan tidak bergeser menjadi sekadar pertunjukan dalam sebuah agenda pemerintah daerah.

Erau sendiri memiliki hubungan panjang dengan kebudayaan Kutai. Karena itu, penyelenggaraan Erau Jejak Tanah di Kutai Timur membawa kepentingan yang lebih luas daripada penyelenggaraan sebuah festival, yakni membuka ruang agar masyarakat dapat mengenali kembali tradisi yang hidup dan diwariskan antargenerasi.

Pelaksanaan perdana ini juga dikerjakan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Selain Disdikbud, Dinas Pariwisata, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), serta Dinas Koperasi dan UMKM Kutai Timur turut mengambil bagian sesuai bidang masing-masing.

Keterlibatan sejumlah perangkat daerah memperlihatkan bahwa Erau Jejak Tanah tidak hanya berkaitan dengan kebudayaan. Kegiatan tersebut juga bersinggungan dengan pariwisata, aktivitas generasi muda, hingga peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah selama penyelenggaraan berlangsung.

“Acaranya akan dilaksanakan pada tanggal 10-13 Oktober 2026 nanti. Pusat acara berada di Rumah Adat Pore, salah satu rumah adat Kutai yang berada di kawasan Ring Road,” ujar Ilham saat menjelaskan persiapan Erau Jejak Tanah 2026 di Sangatta.

Bagi Disdikbud Kutai Timur, salah satu sasaran penting penyelenggaraan Erau adalah mendekatkan kebudayaan Kutai kepada masyarakat. Perhatian terutama diarahkan kepada generasi muda yang tidak semuanya memiliki kesempatan menyaksikan langsung prosesi adat.

Rangkaian Erau dapat menjadi sarana belajar kebudayaan di luar ruang kelas. Masyarakat bukan hanya mengetahui nama sebuah tradisi, tetapi dapat melihat pelaksanaan prosesi, mengenali peran pemangku adat, serta memahami bahwa setiap tahapan memiliki tata cara yang diwariskan.

Pendekatan tersebut penting bagi keberlanjutan kebudayaan daerah. Sebuah tradisi dapat bertahan ketika masih memiliki pelaku, ruang pelaksanaan, serta generasi berikutnya yang mengenal dan memahami keberadaannya.

Ilham berharap Erau Jejak Tanah 2026 tidak hanya menjadi momentum pelaksanaan kegiatan budaya. Pemerintah daerah ingin kegiatan tersebut menjadi sarana memperkenalkan dan mendekatkan adat Kutai kepada masyarakat Kutai Timur, khususnya anak-anak muda.

Harapan lainnya adalah keberlanjutan. Penyelenggaraan pada Oktober 2026 diharapkan tidak menjadi kegiatan yang selesai setelah agenda perdana berakhir, tetapi menjadi pintu masuk bagi program pelestarian budaya berikutnya.

Menurut Ilham, harapan agar kegiatan berlangsung berkelanjutan juga datang dari Bupati Kutai Timur. Pemerintah kabupaten menginginkan Erau dapat berkembang menjadi kegiatan rutin daerah.

“Harapan Pak Bupati, ini menjadi Erau yang pertama dan seterusnya dan menjadi agenda tahunan kabupaten,” kata Ilham saat menyampaikan harapan terhadap keberlanjutan Erau Jejak Tanah di Sangatta.

Jika dapat diselenggarakan secara konsisten, agenda tahunan memberi ruang lebih panjang bagi proses pewarisan tradisi. Pemerintah dan pemangku adat juga memiliki kesempatan untuk membangun dokumentasi, memperluas keterlibatan masyarakat, serta mengenalkan unsur-unsur kebudayaan Kutai kepada generasi baru.

Bagi masyarakat Kutai Timur, Erau Jejak Tanah 2026 akhirnya bukan semata tentang keramaian selama empat hari pada Oktober mendatang. Pelaksanaan perdana tersebut akan menjadi titik awal untuk melihat sejauh mana tradisi Kutai dapat memperoleh ruang tetap di tengah perkembangan daerah sekaligus tetap dikenali oleh generasi yang akan mewarisinya. (ADV/Kominfo)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru