Kutai Timur – Ketua KNPI Kutai Timur, Andi Zulfian, melontarkan kritik keras terhadap penggunaan anggaran daerah untuk pengadaan sepatu dan tas kulit bagi ASN. Di tengah kebijakan efisiensi, ia menyebut pengadaan itu sebagai bentuk pemborosan yang menyakiti rasa keadilan masyarakat. Ia juga menyinggung adanya alokasi anggaran pembebasan lahan parkir senilai Rp9 miliar, yang memperkuat dugaan buruknya tata kelola anggaran di Kutai Timur.
Dalam pernyataannya, Ia menyesalkan adanya upaya penggunaan dana publik untuk hal-hal yang dinilai tidak masuk akal. Menurutnya, anggaran tersebut seharusnya dimaksimalkan untuk menjaga kelangsungan hidup masyarakat kecil.
“Ditengah badai efisiensi masih ada saja upaya-upaya mengeruk uang rakyat dengan hal-hal yang tidak masuk akal,” ujar Zulfian.
Ketua KNPI Kutim juga mempertanyakan tidak adanya penolakan dari DPRD Kabupaten Kutai Timur saat usulan pengadaan tersebut dimasukkan. Ia menilai rapat-rapat DPRD di badan anggaran semestinya menolak proposal tersebut.
Selain pengadaan sepatu dan tas kulit, Zulfian mengungkapkan temuan lain berupa anggaran pembebasan lahan parkir yang mencapai 9 miliar rupiah. Hal ini menambah keprihatinannya terhadap penggunaan anggaran daerah.
“Kami bahkan mengecek ada anggaran pembebasan lahan parkir yang dianggarkan 9 miliar,” jelasnya.
Pihaknya menyatakan kekecewaan terhadap DPRD Kabupaten Kutai Timur yang dinilai tidak jeli terhadap penggunaan anggaran tersebut. Ia berharap pemerintah kabupaten segera mengevaluasi penggunaan anggaran dan melakukan transparansi dengan membuka akses seluas-luasnya agar masyarakat dapat mengetahui peruntukan anggaran.
DPD KNPI Kabupaten Kutai Timur mengajak seluruh unsur, terutama pemuda dan mahasiswa, untuk terlibat aktif dalam mengawasi penggunaan anggaran daerah. Menurut Zulfian, hal tersebut merupakan tanggung jawab pemuda dan mahasiswa.
“Pemuda dan mahasiswa tidak boleh menjadi kerak yang menempel pada kekuasaan, ia harus independen agar objektif dalam mengontrol kebijakan pemerintah yang tidak pro terhadap masyarakat kecil,” tegasnya.
Dalam pernyataannya, dirinya juga mengutip kata-kata penyair Wiji Thukul, “Jika kau menghamba pada ketakutan, maka kau akan memperpanjang baris perbudakan,” sebagai pesan untuk mendorong keberanian dalam pengawasan pemerintahan.


