19.2 C
East Kalimantan
Jumat, 17 April 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Bupati Kutim: Tradisi Padi Mayas di Sekurau Atas Selaras Dengan Alam

BENGALON – Bupati Kutai Timur (Kutim) H Ardiansyah Sulaiman menghadiri acara syukuran pascapanen padi gunung varietas mayas yang digelar secara adat di Desa Persiapan Sekurau Atas, Kecamatan Bengalon, Kutai Timur. Bersama tokoh adat desa, ia duduk bersama dengan warga, mendengar langsung cerita dari ladang dan harapan dari para petani.

Ardiansyah menyampaikan rasa syukur dan mengapresiasi semangat masyarakat lokal dalam mempertahankan tradisi menanam padi mayas yang hanya sekali dalam setahun sebagai bentuk kearifan lokal yang harmonis dengan alam. Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya lokal sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian petani.

“Kita jangan meninggalkan cara-cara lokal yang sudah terbukti selaras dengan alam. Pemerintah hadir untuk memperkuatnya dengan teknologi tepat guna, bukan menggantikannya,” kata dia saat memberikan sambutan di acara syukuran tersebut.

Dia menambahkan, “Syukuran ini bukan sekadar seremoni tetapi mencerminkan keberhasilan kita mengelola sumber daya alam secara bijaksana. Pemerintah daerah terus mendukung petani dengan pelatihan dan fasilitas pertanian yang berkelanjutan,” ucapnya.

Menurut Ardiansyah, program pertanian yang dijalankan Pemkab Kutim saat ini sejalan dengan visi Presiden RI Prabowo Subianto dalam mewujudkan kemandirian pangan. Pemkab Kutim sedang menyiapkan 100 ribu hektare lahan pertanian baru di mana 20 persen difokuskan untuk padi sawah dan 80 persen untuk hortikultura.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa Persiapan Sekurau Atas Jamhari menyampaikan bahwa keberhasilan panen merupakan hasil kerja sama seluruh warga serta penerapan kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur suku Dayak Basap.

“Kalau terus dipaksa, dia akan marah. Kami diajarkan menanam hanya sekali dalam setahun. Untuk menjaga keseimbangan,” ujar Jamhari. “Tanah juga butuh istirahat, tetap subur,” tambahnya.

Padi mayas ditanam hanya sekali dalam setahun. Tanpa pupuk kimia, tanpa alat berat. Tapi dari kerja gotong royong dan petuah leluhur. 30 hektare ladang berhasil menghasilkan gabah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga kesuburan tanah. (ADV/ProkopimKutim/KP)

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Berita Terbaru