SANGATTA – Pengurus Persatuan Wanita Gereja Toraja (PWGT) Klasis Kutai Timur memberikan pembekalan bagi anak-anak dan remaja tentang pendidikan seks dan pengaruh media sosial di Gedung Gereja Jemaat Rama di Desa Singa Gembara, Kecamatan Sangatta Utara, Kutim. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan Anak Sekolah Minggu dan Remaja Gereja Toraja (SMGT).
Pada isu pengaruh media sosial, pengurus PWGT Yuliana Kalalembang menyampaikan materi dengan lugas dan kontekstual. Para peserta diajak memahami bagaimana algoritma, konten viral, dan eksistensi digital bisa memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri, pergaulan, hingga keputusan hidup.
Dalam sesi diskusi, banyak peserta mengungkapkan pengalaman mereka dalam menggunakan media sosial, mulai dari TikTok hingga Instagram, dan bagaimana tekanan untuk tampil sempurna sering kali membuat mereka merasa cemas.
“Anak-anak zaman sekarang sangat cepat menangkap informasi, tapi belum tentu bisa memilah mana yang baik dan buruk,” kata Yuliana.
Selain itu, Yuliana juga mengajak anak-anak dan remaja untuk memahami tubuh mereka sendiri, mengenali fungsi alat reproduksi, serta pentingnya menjaga batasan dalam pergaulan. Ia juga mengingatkan pentingnya pengenalan sejak dini terhadap konsep seksualitas sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual
“Pendidikan seksual tidak berarti mengajarkan anak untuk melakukan seks, tetapi membekali mereka dengan pengetahuan agar tidak menjadi korban atau pelaku dalam situasi yang salah,” ujar salah satu pejabat di Pemkab Kutim itu.
Sebanyak 92 peserta dari kalangan anak-anak dan remaja mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Pengurus SMGT Jemaat Rama hingga rampung. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan anak Sekolah Minggu dan Remaja Gereja Toraja (SMGT). Sebagian besar dari mereka mengaku baru pertama kali mendapat materi pendidikan seks dan literasi digital secara terbuka dan ramah anak. Tak sedikit yang berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin.(ADV/ProkopimKutim/KP)


